Explore Pulau Banyak


Kali ini aku akan berbagi cerita tentang perjalanan ke Pulau Banyak. Cukup seru juga karena trip ini mendadak sekali. Jadi cerita awalnya saya mendaftar untuk ikut acara open trip ke Pulau Pandang dan Salah Namo. Tapi sayangnya ga jadi karena pesertanya tidak memenuhi kuota. Informasi itu saya dapatkan sehari sebelum hari-H. Saya pun berfikir untuk pergi ke tempat lain. Dan teringat lah keinginan saya sejak lama untuk pergi ke Pulau Banyak. Saya pun langsung menghubungi teman saya yg ada di sana. Tanpa menunggu lama saya pun memastikan rencana untuk pergi ke pulau banyak malam harinya.

Untuk menuju ke Pulau Banyak, saya naik travel dari Medan menuju pelabuhan Aceh Singkil. Ya, Pulau Banyak itu merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Aceh. Perjalan dari Medan ke Aceh Singkil membutuhkan waktu sekitar 8 jam lebih. Waktu itu saya berangkat dr Medan sekitar pukul 10 malam dan sampai ke pelabuhan sekitar pukul 6 pagi. Di tengah perjalanan, kami sempat singgah di Kota Subulussalam, Aceh untuk istirahat sejenak.

Sesampainya di pelabuhan, kami tidak masuk ke dalam pelabuhannya, tetapi menuju lokasi di dekat pelabuhan dimana terdapat banyak perahu penumpang di sana. Orang-orang menyebut tempat itu Jembatan Tinggi. Pelabuhan Aceh Singkil biasanya untuk kapal-kapal besar, diantaranya kapal feri untuk penyeberangan. Sedangkan untuk penumpang umum biasanya langsung naik perahu atau boat yg ada di luar pelabuhan. 

Pemandangan di sekitar Pelabuhan Aceh Singkil

Ada beberapa macam perahu dengan tujuan yg berbeda di situ. Ada yg menuju Pulau Balai dan ada yg menuju Pulau Banyak Barat. Semuanya itu adalah lokasi Pulau Banyak. Jadi, sebenarnya Pulau Banyak adalah sebuah kepulauan. Seperti namanya, Pulau Banyak terdiri dari banyak pulau. Menurut informasi dari penduduk setempat ada sekitar 99 pulau yang ada di sana sekarang. Sebelumnya, ada lebih dari 100 pulau, tapi ada beberapa pulau yg hilang sejak kejadian tsunami Aceh tahun 2004 yg lalu.

Kapal menuju Pulau Balai dari Aceh Singkil setiap hari berangkat pukul 09.00 pagi. Tapi itu juga tergantung kondisi cuaca laut terutama pasang surutnya. Alhamdulillah cuaca pada saat itu bagus, sehingga kami berangkat sekitar pukul 9 pagi. Perjalanan laut ke Pulau Balau membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Sepanjang perjalanan, saya pun berbincang-bincang dengan penumpang lainnya di situ. Di kapal, ada pengaturan pemisahan antara penumpang perempuan dan laki-laki. Kita akan melihat semua penumpang perempuan biasanya berkumpul di bagian depan, sedangkan penumpang laki2 berkumpul di bagian belakang.  Sebagian besar yg saya temui di sana adalah penduduk asli Pulau Balai, hanya beberapa wisatawan.

Menurut cerita dari penduduk asli sana, awalnya wisatawan yg datang ke Pulau Banyak itu berasal dari luar negeri. Baru kemudian setelah ada foto dan tulisan dari orang luar tentang keindahan Pulau Banyak dipublikasikan, setelah itu mulai banyak wisatawan lokal yg datang ke sana. Saya teringat juga saat sebelum kapal saya berangkat, saya bertemu dan berkenalan dengan salah satu wisatawan dari Spanyol ketika akan ke toilet. Ngomong2 soal fasilitas, saya lihat pemerintah di sana belum begitu memperhatikan sarana dan prasarana yang ada di sana. Terlihat dari terbatasnya toilet dan kebersihan nya pun sangat tidak terjaga. Untuk memperoleh air pun kita harus menimba dulu dari waduk yg ada di dekat sana.

Sesampainya di Pulau Balai, saya langsung dijemput oleh teman saya, namanya Diya, dan dia pun mengajak ke tempat kerjanya di sana. Teman saya itu adalah salah satu trainer yg terpilih di program Nusantara sehat dan ditempatkan di sana. Sebelumnya kami pernah satu kantor di kampus tempat saya bekerja saat ini. Aku beruntung sekali mempunyai kawan sebaik dia. Di sana saya tidak hanya disediakan tempat menginap tetapi juga diberi makan dan diajak jalan-jalan. Saya juga dikenalkan dengan kawan-kawan yg sama2 bertugas di sana. Dan bersama-sama dengan kawannya, kami pun melakukan trip bersama-sama keesokan harinya.

Eksplorasi pertama adalah Pulau Balai, tempat aku menginap. Pulau Balai bisa disebut pusat penduduk Pulau Banyak sekaligus ibukota kecamatan Pulau Banyak. Karena tidak semua pulau dihuni oleh  penduduk, hanya sedikit pulau yg memiliki penduduk salah satu yg paling banyak adalah di Pulau Banyak.

Di situ aku mencoba kuliner khas di sana yaitu Mie Aceh kepiting. Jujur, itu adalah saat pertama kalinya saya makan kepiting. Rasanya enak sih, tapi agak ribet dan susah makannya. Kemudian saya juga mampir ke toko cinderamata di sana dan membeli kaos yg bergambar gugusan kepulauan di Pulau Banyak. Tidak banyak yg bisa dilihat dan dikunjungi malam hari. Dan aku pun beristirahat untuk eksplorasi pulau esok harinya.

Salah satu dermaga di Pulau Balai

Pada pagi harinya saya diajak ke Jembatan Balaibung. Jembatan ini sebenarnya belum diresmikan dan masih tahap pembangunan, hanya saja sudah hampir selesai. Saya yakin nanti jembatan ini akan menjadi salah satu ikon Pulau Banyak dan banyak dikunjungi wisatawan. Jembatan ini unik karena menghubungkan dua pulau, yaitu Pulau Balai dan Pulau Sangalat di Teluk Nibung. Dari jembatan itu kita bisa menikmati indahnya pemandangan laut dan beberapa pulau yang ada di dekat sana. Kemudian saya menuju pantai di Pulau Balai. Pantai-pantai di sini juga indah pemandangannya. Pasirnya putih dan air lautnya pun biru jernih. Apalagi pantai dekat dermaga di belakang asrama polisi tempat kami berkumpul untuk pergi berlayar ke bagian pulau lain di Pulau Banyak.

 Jembatan antar dua pulau di Pulau Balai

Masih di Jembatan Balaibung

Kami menyewa speedboat untuk berkeliling di pantai-pantai lain di Pulau Banyak. Kami berangkat sebanyak 8 orang. Salah satunya kawanku, Diya dan yg lain adalah kawan-kawan kerja Diya yang baru aku kenal yaitu Tantri, Winda, Siska, Yoga, Qomar dan Rizal. Tujuan utama kami adalah Pulau Panjang. Sebelum ke Pulau Panjang, kami pun mempersiapkan makanan untuk piknik di sana.

Bersama kawan-kawan trip Pulau Banyak

Pulai Panjang cukup dekat dengan Pulau Balai, sekitar 15 menit untuk sampai ke sana. Di Pulau Panjang, kita bisa bersantai, berfoto-foto, makan, berenang dan snorkeling. Di sana tersedia pondok-pondok dan bangku untuk tempat duduk. Dan jangan takut lapar karena di sana juga ada warung. Tempat sholat juga tersedia. Dibandingkan Pantai yang ada di Pulau Sabang, pantai di sini masih terlihat lebih alami. Walaupun begitu, pantainya tidak kalah indah. Air lautnya sangat biru dan bersih. Pengelolaan sampahnya cukup baik di sana karena penduduk di sana sangat memperhatikan kebersihan dengan melarang membuang sampah di lautan. Karena kebersihannya, kita tidak perlu takut untuk berenang di sekitar lingkungan Pulau Banyak.

Pantai di Pulau Panjang

Pondok tempat berteduh di Pulau Panjang

Pulau Panjang sendiri merupakan salah satu lokasi wisata terumbu karang di sana. Sehingga kita bisa snorkeling dan menikmati pemandangan di bawah lautan. Saya sendiri pun tidak melewatkan kesempatan untuk melihat pemandangan indah terumbu karang di Pulau Panjang. Dan yeah, benar-benar indah, baik terumbu karang maupun ikan-ikan yang mengelilinginya juga beragam.

Selain ke Pulau Panjang, saya juga singgah ke Pulau Rangit. Jarak Pulau Rangit sangat dekat dengan Pulau Panjang. Pulau Rangit terkenal dengan menara mercu suarnya yang tinggi sehingga kita bisa melihat indahnya pemandangan lautan biru dan gugusan beberapa pulau di Pulau Banyak dari atas menara. 

Menara mercu suar di Pulau Rangit

Pemandangan dari atas menara di Pulau Rangit

Setelah petang datang, kami pun akhirnya harus mengakhiri perjalanan kami hari itu dan pulang kembali ke Pulau Balai. Saya pun bersiap-siap untuk mengepak barang bersiap-siap untuk pulang kembali ke Medan. Walaupun hanya satu hari saya di Pulau Banyak, saya sangat puas dan menikmati perjalanan yang begitu menyenangkan. Yang pasti perjalanan begitu bermakna juga karena aku bertemu dengan kawan-kawan baru yang menyenangkan di sana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip Berastagi

Lau Mentar Canyon

Sunday Vacation trip to Kampoeng Durian (Part 1)