Sejarah Berdirinya SALAM



Kali ini saya tidak akan bercerita tentang trip saya, tetapi saya akan bercerita tentang sejarah berdirinya komunitas pecinta alam yang telah membawa saya berkeliling Sumatera Utara ini. Komunitas itu bernama Sahabat  Alam Medan, atau disingkat dengan SALAM. Sebelumnya saya pernah bercerita tentang perjalanan ke Canyon Lau Mentar bersama Tim Jelajah Sumatera. Dan berdirinya SALAM tidak lepas dari trip tersebut.


Pertemuan pertama di Lau Mentar

Dari perjalanan tersebut, saya berkenalan dengan beberapa teman-teman baru, antara lain Hotnida, Delima, Mugi dan Satria. Mereka berempat memang sering melakukan trip bersama-sama dan mereka mempunyai grup LINE untuk membahas tentang perjalanan mereka. Setelah berkenalan dengan mereka, saya diundang ke grup mereka. Ternyata tidak hanya saya yang diundang di grup itu. Ada juga orang-orang lain yang saya temui di trip itu seperti Erwin, Yogi, Khairil, Langit, Husen Rambe dan Chairil Umam. Dari grup ituah kemudian mereka merencanakan trip selanjutnya ke Simempar. Saat itu saya tidak ikut dalam trip ke Simempar. Namun saya tahu dari grup tersebut, ada beberapa orang yang mengikuti trip itu masuk sebagai anggota baru ke grup itu seperti Bembeng, Fahmi, dan Novi.

Trip ke Simempar

Ada satu kejadian yang akhirnya membuat kami semakit erat pada saat trip ke Simempar, yaitu kecelakaan Delima pada saat trip. Kami semua pun merasa peduli dan menjenguknya bersama-sama. Hingga pada suatu hari kami sepakat berkumpul silaturahmi di rumah kontrakan Nida dan Delima (mereka berdua adalah kakak beradik) yang akhirnya menjadi basecamp tempat kami berkumpul. Dan malam itulah kami mulai membentuk komunitas baru yang dikenal sebagai SALAM, singkatan dari Sahabat Alam Medan.

Saya sendiri datang ke sana di tengah hujan naik ojek online. Hari bersejarah itu terjadi pada tanggal 8 Desember 2018. Pada pertemuan itu kami membahas tentang pembentukan komunitas yang memang bertujuan kami sebagai wadah yang mendukung hobi kami, yaitu traveling. Masing2 kami menyumbangkan ide untuk nama komunitas kami. Setelah musyawarah, akhirnya pada malam itu terbentuklah komunitas baru dengan nama Sahabat Alam Medan yang disingkat SALAM yang merupakan ide dari Fahmi. Malam itu pun kami menyepakati semboyan kami yaitu “Serunya Bersahabat dengan Alam”.


Kami pun sepakat bahwa di komunitas ini kami tidak mengenal sistem ketua, karena komunitas ini milik bersama dan semua keputusan pun harus dirundingkan bersama-sama. Namun kami memiliki bendahara untuk mengumpulkan dana kami, yaitu Hotnida. Dan sistem dalam SALAM adalah kekeluargaan. Kami menganggap satu sama lain adalah saudara satu keluarga, tapi tidak berarti diantara kami tidak bisa memiliki hubungan yang spesial. Kira-kira begitulah cerita sejarah terbentuknya SALAM. Dalam perkembangan selanjutnya kami berganti semboyan yang hingga saat ini tidak berubah, yaitu “Kita Bisa Karena Kita Bersama”. Dalam perjalanannya pun kami kerap menghadapi masalah yang hampir saja membuat komunitas ini bubar, beberapa anggota keluar. Namun kami tidak pernah menyerah hingga komunitas ini masih bertahan selama hampir dua tahun lamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lau Mentar Canyon

Santai Manis di Pantai Romantis

Trip Berastagi