Trip Backpacker ke Bukit Gajah Bobok


Seringkali kita melakukan perjalanan bukan mencari kenyamanan. Apalagi untuk para petualang yang justru dengan senang hati mencari tantangan dalam setiap perjalanan. Karena dengan melewati tantangan, kita bisa mendapatkan satu pengalaman yang berkesan selama perjalanan, bukan sekedar mencapai tujuan yang diinginkan. Perjalanan yang akan saya ceritakan kali ini adalah salah satu perjalanan yang berkesan, berbeda dengan perjalanan-perjalananku sebelumnya.

Tujuan saya kali ini dalah Bukit Gajah Bobok, salah satu tempat wisata yang ngehits di kalangan pecinta alam. Lokasi Bukit Gajah Bobok ini di Tanah Karo, tepatnya di Desa Pangambatan, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jarak dari Medan ke lokasi tersebut sekitar 105 km dan membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Perjalanan kali ini cukup seru karena saya ngetrip dengan cara backpacker. Proses perjalanan dan tracking menuju tujuan juga menantang.  

Lagi-lagi saya harus berterima kasih kepada salah satu mahasiswa saya yang mengajak saya ke tempat indah ini, namanya Christina Simorangkir. Dari perjalanan ini juga saya mengenal salah satu petualang alam sejati dari Medan yang membawa kami hingga sampai ke tujuan, yang bernama David Kevin Sibuea. Berkat dia, saya jadi punya pengalaman ngetrip dengan cara yang seru, menantang dan murah meriah meski tidak punya kendaraan, yaitu dengan cara backpaker. Selain kami bertiga ada dua orang lagi kawan David yang ikut serta.
Bersama Christina dan David

Kami berangkat malam hari waktu itu dengan naik bus KUPJ Sumatera Transport (Sutra) dari Simpang Pos. Bus KUPJ yang kami tumpangi saat itu penuh di dalam, sehingga kami pun duduk di atap bus. Ya, benar sekali. Untuk pertama kalinya saya merasakan duduk di atap bus. Tetapi memang di sini hal tersebut sudah lazim dilakukan, jadi orang pun tidak heran. Bahkan ada yang memang sengaja memilih untuk duduk di atap bus. Dan memang kondisi atap bus juga didesain sedemikian rupa dengan jaring-jaring besi yang sebenarnya untuk tempat menaruh barang, tetapi juga bisa membuat penumpang lebih aman duduk di atap bus. Memang sih, agak kurang nyaman di atas, tapi kita bisa merasakan hembusan angin selama perjalanan daripada kepanasan berdesak-desakan di dalam bus. Malangnya, saat itu di tengah jalan tiba-tiba hujan deras. Untungnya di bus itu sudah disediakan terpal sebagai pelindung kami yang ada di atap bus. Jalanan saat itu pun sangat macet karena memang setiap malam minggu banyak orang Medan yang pulang kampung ataupun piknik ke daerah-daerah Berastagi hingga daerah Toba yang pusat lalu lintasnya lewat Jl. Jamin Ginting. Sebagai informasi, Jl. Jamin Ginting merupakan jalan lalu lintas utama yang paling panjang di Sumatera Utara, dan juga salah satu jalan terpanjang di Indonesia karena panjangnya mencapai 78 km, melewati Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang hingga Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di tengah kehujanan dan kemacetan itu, saya masih bisa tertidur di atap bus hingga sampai akhirnya kami berhenti di suatu simpang Masjid di daerah Kabanjahe, Kabupaten Karo.

Setelah turun dari bus, saat itu waktu menunjukkan sudah tengah malam dan tujuan kami masih jauh. Aku pun bertanya pada David saat itu, bagaimana kami bisa sampai ke sana malam ini sedangkan saya lihat jalan sudah sepi dan tidak mungkin ada angkutan umum ataupun taksi tengah malam di daerah kampung seperti ini. Dia pun bilang pada saya untuk tetap tenang, karena backpacker tidak butuh angkutan umum, dan memang tidak ada angkutan umum yang langsung ke daerah Bukit Gajah Bobok. Aku pun menunggu bersama mahasiswa saya. Sampai akhirnya David berhasil memberhentikan mobil pick up dan meminta tolong pada pengemudi yang kebetulan juga searah dengan tujuan kami. Dan yeah, kami pun pun naik di belakang mobil pick up tersebut hingga sampai jalan gang kecil yang merupakan akses ke Bukit Gajah Bobok.

Camping ground di Bukit Gajah Bobok

Karena waktu masih dini hari, kondisi jalan pun masih sangat gelap, tapi pastinya sebagai petualang, kami sudah sedia senter sebelumnya. Namanya juga mau ke bukit, jadi jalannya juga pasti naik. Kami membutuhkan waktu berjalan mendaki ke bukit sekitar 20 menit. Sesampainya di bukit, saya merasakan hembusan badai angin yang cukup kencang dan membuat saya semakin kedinginan. Kami pun segera mendirikan tenda untuk beristirahat. Ada dua tenda yang kami dirikan. Dan setelah sekian lama, aku pun merasakan camping lagi setelah terakhir kali camping pramuka saat saya masih SMA. Untungnya sudah tidak hujan lagi, jadi kami pun bisa beristirahat nyaman di dalam tenda, menunggu pagi datang.
Setelah pagi mejelang, saya pun bangun dan diajak Christine untuk melihat pemandangan yang katanya indah. Awalnya saya agak malas karena masih dingin udara di luar dan masih kelelahan karena perjalanan semalam. Tetapi saya pun ingat tujuan saya ke sini, salah satunya untuk melihat pemandangan di sini. Dan setelah saya melihat pemandangan itu, raasanya tidak sia-sia perjalanan menerobos hujan dan kemacetan sampai terpaksa mendaki tengah malam di tengah badai angin dan udara dingin. Karena di pagi harinya kita bisa melihat panorama alam yg menakjubkan dari segala sisi. Kita bisa menikmati panorama Danau Toba, Bukit Gundul, Gunung Sibuatan dan Gunung Sibayak dari puncak Bukit Gajah Bobok ini. I think, It's such a great experience in my life. Luar biasa pemandangan yang aku lihat dari Bukit Gajah Bobok.

Pemandangan Danau Toba dari Bukit Gajah Bobok

Suasana pagi di Bukit Gajah Bobok

Dari situ aku belajar semakin tinggi kita mendaki, maka akan semakin terasa hembusan angin dingin yang menerpa dan semakin berat tantangannya. Namun di sisi lain semakin tinggi kita mendaki akan lebih banyak pemandangan indah yg bisa kita lihat dan kita merasa bahagia saat kita akhirnya mencapai puncaknya. Begitupun dengan hidup. Semakin tinggi posisi kita maka akan semakin besar tanggung jawab, masalah dan tantangan yg akan kita hadapi. Tapi tetaplah percaya, semakin banyak hal indah lain yg akan kita lihat nantinya dan kita pun akan bahagia saat berhasil mencapai tujuan kita.
Pemandangan alam perbukitan dari puncak Bukit Gajah Bobok

Pemandangan yang paling indah di sana menurut saya adalah bagian panorama Danau Toba yang dikelilingi oleh perbukitan di sekelilingnya apalagi di pagi hari fajar menjelang dimana paduan langit dan Danau Toba terlihat seperti secercah cuilan surga yang ada di bumi. Pesona Danau Toba memang tidak ada habisnya. Tidak heran jika saat ini pemerintah Indonesia sangat gencar mengembangkan potensi wisata di sekitar Danau Toba, karena dilihat dari segala sisi, danau vulkanik terbesar di dunia ini begitu indah. Salah satunya dari Bukit Gajah Bobok ini. Dari puncak Bukit Gajah Bobok ini kita bisa melihat salah satu bukit di tepi Danau Toba yang bentuknya gajah sedang tidur. Mungkin karena itu bukit ini dinamakan Gajah Bobok yang berarti gajah tidur.

Bentuk daratan tepi Danau Toba yang seperti gajah tidur.

Kami pun tidak lupa mengabadikan momen kami dan juga pemandangan indah yang kami lihat di sana. Setelah puas menikmati pemandangan itu, kami pun memasak untuk sarapan kami. Di sana tidak ada warung atau penjual makanan, sehingga kita harus membawa bekal makanan dari rumah. Dan kalau camping, lebih seru jika kita memasak di sana. 

Bersama teman-teman seperjalanan

Setelah hari sudah siang, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Perjalanan pulang kami tidak berbeda jauh dengan perjalanan saat berangkat. Hanya saja kali ini kami menumpang mobil pick up bersama petualang lain yang juga baru saja melakukan perjalanan backpacker dari Bukit Gajah Bobok. Dan sebenarnya mobil pick up yang kami tumpangi akan ke Medan, tetapi karena takut melanggar lalu lintas, dimana mobil pick up tidak boleh mengangkut manusia, jadi kami turun di daerah Berastagi. Setelah itu kami naik bus KUPJ dan duduk di atap bus lagi hingga kami sampai di Medan.

Satu lagi yang saya ingat, saat kami turun dari Bukit Gajah Bobok, kami melihat Gunung Sinabung yang sedang mengeluarkan awan panas dari puncaknya. Ya, saat itu memang Gunung Sinabung sedang aktif dan sering mengeluarkan awan panas. Dan lokasinya pun tidak jauh dari Bukit Gajah Bobok, masih di daerah Tanah Karo.

Pemandangan erupsi Gunung Sinabung dari kejauhan.

Bagiku perjalanan ini begitu sangat berkesan hingga saya pun masih ingat sampai sekarang walaupun perjalanan ini saya lakukan dua tahun yang lalu. Tak hanya tujuannya yang begitu indah, tetapi proses perjalanan juga sangat seru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip Berastagi

Lau Mentar Canyon

Sunday Vacation trip to Kampoeng Durian (Part 1)